Senior “Killer” Itu Jodohku

Sebelum saya ceritakan bagaimana saya bisa ketemu dengan sang pujaan hati, saya ingin bilang bahwa tulisan ini bukan untuk bangga-banggaan apalagi sok merasa hebat, “khusus bagi pembaca yang belum ketemu jodohnya”. Catatan singkat ini saya tulis untuk menjadi pelajaran bagi saya pribadi bahwa banyak hikmah dari semua kejadian yang Allah berikan pada kita dan moga-moga menjadi pelajaran juga bagi para pembaca. (Juga menjadi penyenang hati baginya, ciee!)

Karena saya sudah lama kenal dengannya, maka kisah ini saya bagi dalam beberapa chapter. Sebagian besar apa yang saya sampaikan sifatnya informasi sambil dibumbui dengan emosi, walaupun sejatinya saya bukan orang yang melankolis seperti dalam cerita. hehe.

Saat pertama jumpa

Waktu itu tahun 2011, dimana saya sebagai mahasiswa baru memulai aktifitas perkuliahan. Saya termasuk mahasiswa yang suka berorganisasi, makanya tidak lama kuliah saya sudah ikut salah satunya. Seingat saya, organisasi pertama itu bernama SUFIEC (maaf lupa kepanjangannya, soalnya pake bahasa inggris, wkwk). Organisasi yang bernaung di bawah fakultas Tarbiyah UIN Ar-Raniry.

Saya lupa kenapa akhirnya saya masuk kesana. Tapi yang paling saya ingat. bahwa rapat perdana SUFIEC menjadi awal saya kenal dengan akhwat yang sekarang menjadi istri saya sekarang.

Oya? Saya lupa mengenalkannya. Dia adalah Dewi Listri Narossa. Anak jurusan Pendidikan Bahasa Inggris tahun 2010. Sedang saya anak Pendidikan Bahasa Arab tahun 2011. Makanya saya panggil senior. Tapi ternyata walaupun keliatan cuma beda 1 tahun. Aslinya beliau letting 2005 yang sebelumnya sudah kuliah di LP3I. So. Usia kami terpaut 6 tahun. (Yah walaupun dibanding-bandingkan, wajahnya saya tetap keliatan lebih tua. wkwkwk).

Kembali ke rapat perdana tadi. Kesan pertama yang saya tangkap. Akhwat ini sadis, killer dan mengerikan. Walaupun diawal saya gak akrab dengan wajahnya, soalnya tiap rapat kami pake hijab. Jadi gak keliatan antara laki-laki dan perempuan. Tapi lama kelamaan saya gak asing dengan wajah dan suara lantang bagaikan halilintarnya itu (hiperbola banget yak.. hihihi)

Kenapa saya bilang killer? ya karena hampir di semua rapat orang ini mendominasi, menyikat semua pendapat yang gak sesuai dengan kepalanya. Terlebih sangat anti dengan ikhwan. Jangankan menggodanya, melihatnya saja ikhwan-ikhwan pada keder. Dia akan balas menatap seolah-seolah berbicara “ No mercy, i will kill you!”. hahaha

Dari kesan itu, jangankan berfikir jadi istri. Suka aja gak ada. Jauh banget!

Tapi ada nilai plus yang saya pandang dikemudian hari. Bahwa selain penampilannya yang menutup aurat dengan sempurna. Sifatnya yang keras membuatnya jauh dari ujian godaan ikhwan-ikhwan gak jelas. Sangat terjaga. Memang ciri-ciri istri sholehah.

Kritikus sejati

Jadi ceritanya, ada salah satu kegiatan SUFIEC dimana waktu itu saya diamanahkan sebagai anggota seksi publikasi. Perlu dicatat, tahun 2011 saya belum bisa sama sekali menggunakan program-program desain. Di rapat itulah saya dipaksa belajar. Hingga akhirnya saya bisa membuat poster pertama dengan adobe photosop.

Ini poster pertama saya, masih ancur banget bro…

Kemudian setelah selesai. Poster ini dikritik habis-habisan oleh senior itu. Katanya jelek, warnanya kontras, bla-bla. Saya pusing sendiri liat ini orang. Dia yang usulin dan tau kalo saya belum bisa. Malah dikritik pedas seperti itu. Tapi saya sabar dan perbaiki. Dan berikut-berikutnya saya terus dipercaya sebagai desainer hingga akhirnya menjadi profesi saya yang sekarang.

Secara tidak langsung, senior saya itu menjadi media dimana saya menjadi kayak sekarang. Makasih ya kakak… hehe

Lama tak bersua

Dari rentang 2011 hingga 2015, setidaknya ada beberapa kegiatan yang kami terlibat disana. Mulai dari satu struktur pengurusan di LDK Ar-Risalah hingga sama-sama mengurus mentoring Ma’had UIN Ar-Raniry. Selain itu saya juga tahu bahwa ditahun itu dia pernah menjabat sebagai ketua STM (Study Tarbiatul Mar’ah) organisasi kemuslimahan fakultas tarbiyah. Juga mengelola SAD (Save Aneuk Dara) Komunitas yang perduli terhadap para perempuan di Aceh.

Walaupun terlibat dalam beberapa aktifitas yang sama. Tapi kami sama sekali tidak berkomunikasi. Jikapun ada sebatas masalah teknis. Jauh dari bayang-bayang kalo dikemudian hari, beliaulah yang akan saya sebut namanya didepan ayah mertua.

Ketika siap menikah

Mungkin hal mendasar yang membuat saya benar-benar ingin menikah adalah kebutuhan batin. Sebab walaupun seorang aktifis dakwah, saya lebih sering futur khususnya diwaktu-waktu sendirian. Saya takut ini makin larut dan membuat saya malah jauh dari Allah. Makanya saya sampaikan niat ini kepada murabbi. Dan murabbi saya pun dengan sigap mem-follow upnya. Walaupun saat itu saya hanya punya uang pas-pasan.

Saya beranikan diri untuk ta’aruf. Dengan bermodalkan CV dan murabbi yang memiliki banyak jaringan, proses demi proses saya lalui. Awalnya saya mengajukan nama. Namun selang berapa hari berikutnya ustad bilang

“Baiknya antum dengan xxxxx aja. Beliau itu begini dan begini”.

Jadi nama yang saya ajukan tidak sesuai dan diganti dengan yang lebih cocok menurut kriteria saya. Bolehlah saya bocorkan disini seperti apa kriteria saya. Yaitu minimal dia sudah membina satu kelompok halaqah. Sebab sebagai aktifis dakwah membina adalah aktifitas yang penting bagi dakwah maupun amalan-amalan pribadi. Sedang untuk kriteria fisik saya gak punya patokan.

Sedang akhwat yang ditawarkan itu juga sudah sangat luar biasa menurut saya. Jadi sudah tentu saya menerima tawaran itu. Tapi untuk tau jawaban apakah dia bersedia taaruf atau tidak, saya harus menunggu kira-kira 3 minggu. Dan saat jawaban masuk. Saya resmi di tolak. Saya terpukul dan cukup sedih sebenarnya. Tapi toh masih banyak yang lain. Jadi saya coba lagi.

Yang menarik dari proses taaruf ini, kita tidak dianjurkan menghubungi langsung. Semua proses pengenalan siapa dia dan siapa kita dilakukan oleh perantara. Bisa jadi murabbiahnya dan murabbi kita. Sebab, saya sadar. Seandainya saya menghubunginya langsung dan ternyata ditolak. Hasilnya akan lebih sakit dan harga diri kita akan jatuh. Taaruf meminimalisir itu. Hatta akhirnya saya ketemu dengan akhwat yang menolak saya itu, saya biasa saja.

Menghindari untuk menghubungi langsung juga bermaksud supaya kita lebih terjaga. Sebab godaan untuk saling mengungkapkan rasa itu besar. Dan pemilihan pasangan dengan perantara membuat kita lebih matang dalam memilih secara objektif. Pengalaman bahwa saya juga pernah pacaran membuat saya takut terjerumus lagi.

Balik ke taaruf. Akhirnya proses dilanjutkan dengan akhwat yang lain. Dan memang masih belum beruntung. Karena hingga proses ke 6 pun saya masih belum berhasil. Sebagian merasa belum siap menikah, sebagian menolak karena orang tua tidak setuju dan sebagian menolak karena alasan pribadi.

Sempat frustasi juga, sebab yang dulunya saya fikir akhwat itu pasti menerima jika yang datang ikhwan yang sudah lama ter-Tarbiyah. Tapi nyatanya tidak. Kasus ini membuka mata saya, bahwa akhwat punya kriteria pribadi, bukan hanya tingkat amalan tapi juga fisik. Walaupun kemudian saya memaklumi dan berlapang dada, bahwa toh mereka juga berhak memilih dan inilah suratan takdir yang Allah siapkan untuk saya.

Selama proses itu. Istikharah juga lebih sering saya tunaikan. Amalan lebih ditingkatkan. Dan berusaha untuk lebih sabar serta menerima apa yang terjadi. Bahkan di proses yang ke 6. Saya sudah tidak lagi memikirkan siapa orangnya. Sepanjang sudah direkomendasi. Saya siap taaruf dengannya. Dan itupun gagal ternyata.

Ustad yang memfasilitasi sempat bilang untuk melobi lagi dan meyakinkan. Sebelum bertemu dengan ustad itu, entah kenapa terbersit nama dan perenungan dihati saya. Kenapa tidak dia saja. Toh kamu menikah bukan untuk mencari raga yang fana kan. Menikah itu untuk selama-lamanya hingga akhirat. Jika memang itu yang terbaik usia bukan masalah lagi kan.

Sampai akhirnya saya berdiskusi dengan beliau. Saya katakan “ Menurut ustad bagaimana kalo dengan kak dewi”. Beliau sebenarnya agak terkejut. Sebab sebelumnya memang masuk dalam daftar, cuma tidak diajukan karena yakin saya pasti menolak karena alasan umur.

“Yakin antum, ?”

“Iya ustad, yakin. InsyaAllah.”

Percakapan kami terputus disana. Dan saya tidak tahu kalo beliau akhirnya serius untuk mengabarkan kesiapan saya. Padahal sebelumnya sudah ada agenda untuk meyakinkan calon sebelumnya untuk memikirkan ulang keputusannya.

Tapi Qadarullah. Sore harinya saya bilang. Besok siangnya sudah ada kabar. Bahwa beliau siap taaruf. Saya terkejut dan bingung. Alhamdulillah.

Dari taaruf hingga pelaminan

Proses dari taaruf hingga walimatul ursy kurang lebih 5 bulan. Dalam prosesi taaruf banyak pertanyaan yang membuat saya ragu kalo saya bakalan diterima. Saya dicecar banyak sekali pertanyaan. Jika bukan karena murabbi saya yang mencairkan suasana, mungkin ruangan itu bakalan kayak kuburan. wkwk

“Kenapa antum pilih ana?” “Kenapa ana harus pilih antum?” “Bagaimana nanti mendidik anak?” dan bla-bla segudang pertanyaan lain. Betul-betul horor, persis seperti dulu.

Sedang saya hanya menanyakan dua pertanyaan saja. Dan jawabannya cukup memuaskan. Alhamdulillah.

Dan akhirnya proses lancar. Dilanjutkan dengan khitbah dan perencanaan walimah. Sampai disana saya masih tetap mengenalnya sebagai sosok senior killer. Kami tetap jarang komunikasi. Bahkan dibulan ramadhan kemarin setelah khitbah, dia meminta untuk memutuskan komunikasi sementara, supaya bisa fokus ibadah dan saya menyetujuinya.

Pernah ketika mengurusi administrasi pernikahan di KUA, dia meminta tanda tangan saya sebagai calon suami. Karena terdesak, dia meminta saya untuk bertemu didepan warung makan. Saya gugup sekali. Selain saya jarang berinteraksi dengan wanita secara intens sebelumnya. Sampai saat itu saya belum melihat wajahnya sama sekali walaupun ketika khitbah. Modal saya hanya foto yang dikirimkan ketika taaruf. Dan akhirnya kami bertemu di depan warung makan. Sambil dia menyodorkan formulir itu, dia langsung balik arah ke belakang. Dan saya langsung menandatanganinya dengan cepat. Hanya sepersekian detik kejadian itu. Nyaris tanpa suara. Dan waktu pulang. Saya hanya senyum-senyum saja.

Dan Alhamdulillah ijab qabul lancar dilaksanakan. Perjuangan selama ini terbayarkan dengan indah. Wanita yang dulunya saya kenal sebagai senior killer, kini menjelma menjadi makmum sholihah nan lembut. MasyaAllah.

Hikmah

Bahwa dalam satu doa yang pernah saya panjatkan, saya meminta agar diberikan wanita sholihah yang hafal 30 juz Al Qur’an. Walaupun saya hanya hafal juz 30 doang. Dan Allah karuniakan itu. Bahkan lebih dari ekspektasi. Dan diantara 100 impian yang saya tulis. Saya membuat resolusi menikah di umur 25 tahun. Dan Alhamdulillah juga sudah tercapai.

Satu hal yang penting menjadi catatan saya selama ini adalah. Alasan kenapa menikah dan bagaimana prosesnya. Jika ada nilai-nilai islami yang kita perjuangkan. Maka InsyaAllah Allah mudahkan untuk membentuk keluarga rabbani.

Penting juga melihat kedalam diri. Sebab setelah saya amati. Walaupun banyak perbedaan saya dan istri. Tapi kami seperti cerminan antara satu sama lainnya. Bagaimana karaktermu itulah jodohmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *