Syahwat Ide dan Komitmen Triwulan

Pernah merasa bahwa rasa-rasanya kita sering gagal dalam pencapaian karir. Padahal motivasi yang mendorong seakan mampu menggerakkan usaha kita untuk menjadikan apa yang kita ekspektasikan. Tapi nyatanya tidak, kebanyakan malah berakhir dengan meratapi nasib. Lantas apa yang salah

Ditulisan-tulisan sebelumnya saya sudah banyak membahas bagaimana kebiasaan dapat membangun kesuksesan. Bukan hanya karir melainkan kesuksesan dunia akhirat insyaAllah. Namun yang menjadi masalahnya adalah saat seseorang sudah terlalu banyak hal yang ingin dicapai, sehingga tidak tahu lagi mana prioritas yang harus difokuskan.

Pasalnya bukan karena kita tidak ada ide, namun malah karena terlalu banyak ide yang ingin direalisasikan, makanya ambyar. Tapi dititik inipun ketika ide yang datang banyak sekali, sebenarnya bisa mengantarkan kita kepada keberhasilan. Tapi musuh utamanya adalah yang saya sebut dengan “Syahwat ide”.

Jadi ide itu sebuah anugerah, penggerak dan positif. Namun saat kita tidak mampu berkomitmen pada ide yang direalisasikan dan dikomitmenkan untuk dikerjakan secara tuntas, maka ini akan menjadi masalah. Saat sedang mengerjakan sebuah projek khusus untuk menunjang karir, sekelebat kita menemukan ide yang seakan lebih baik dari yang sedang kita kerjakan. Akhir nya kita melakukan pivot (perpindahan) secara tiba-tiba. Namun setelah hijrah, bukannya sukses dengan ide baru itu, malah kita jenuh dan melakukan pivot lagi dan lagi. Padahal waktu yang kita miliki terbatas sehingga tidak bisa mengcover semua ide yang datang.

Syahwat ide jika tidak terkontrol hanya akan menggoyahkan daya juang kita. Fokus akan sangat terganggu jika terus menerus mengikuti hawa nafsu walaupun dalam tataran yang positif.

Itu yang saya alami sebelum-sebelumnya. Banyak ide besar dan harapan besar tentang karir yang ingin saya capai. Saya masih ingat ketika tahun 2014 saya konsen menulis di blog, jujur tujuannya adalah monetize iklan adsense. Namun tak bertahan lama, saya beralih fokus menjadi desainer, padahal saya sudah cukup banyak menulis artikel diblog namun tidak dilanjutkan. Menjadi desainerpun cukup luas areal garapannya, sehingga menyulitkan fokus, sesaat saya ingin menjadi author marketplace dengan banyak produk yang menghasilkan passive income, berubah lagi menjadi contester 99design untuk menjadi logo desainer profesional, bahkan sempat bergelut dengan UI design, hingga kesemuanya tidak ada yang benar-benar berhasil.

Tapi perlu diketahui bahwa syahwat ide ini bukan lahir dengan begitu saja, ada faktor penunjang khusus, yaitu motivasi yang membangkitkan syahwat.

Dari kisah yang saya ceritakan diatas, dengan terlalu banyak mondar-mandir dari karir satu ke karir lain, sebenarnya dimulai dari dorongan motivasi orang-orang yang sukses dibidangnya. Di dunia blogger, saya bertemu dengan orang yang mampu mengelola 30 blog sekaligus, dengan penghasilan bulanan 30 juta per bulan, begitu pula dengan dunia marketplace desain, contest dan sebagainya, semua bermula dari cerita kesuksesan orang dengan raihan capaian yang bikin mata berbinar-binar.
Namun disatu titik, saya memahami bahwa apa yang merusak saya adalah syahwat saya sendiri. Keinginan untuk punya banyak uang, bisa membeli apa saja dengan kebebasan finansial. Tapi tidak dibarengi dengan controling yang kuat. Sehingga semua hanya khayalan.

Bukan berarti motivasi karena uang adalah hal yang salah, tentu tidak. Sebab toh dengan adanya harta yang banyak, kita bisa melakukan banyak kebaikan daripada saat kita tidak memilikinya. Balik lagi ke masalah utamanya adalah syahwat yang tak terkontrol hingga kita hilang kendali atas usaha yang maksimal dan tuntas.

Pernah suatu hari Socrates memberi tantangan pada muridnya Aristoteles, katanya, “Pergilah kamu ke kebun bunga disana, dan carilah bunga tercantik yang ada disana. Tapi dengan syarat, saat kamu sudah mengambil salah satu bunga, kamu tidak boleh kembali mengambil bunga yang menurutmu lebih baik”. Aristoteles kemudian pergi sesuai arahan gurunya. Ketika memasuki kebun bunga, seketika dia menemukan bunga yang indah, tapi karena takut didepannya ada bunga yang lebih baik, tidak mengambil bunga yang baru saja ia lihat, ia berjalan lagi dan menemukan bunga yang lebih cantik, ketika hendak mau mengambil bunga tersebut, lagi-lagi datang fikiran yang sama. Dia berjalan terus hingga tibalah dia di ujung kebun tersebut dan saat dia mengambil bunga terakhir yang ia temui, ia sadar bahwa ada banyak bunga yang lebih indah dibelakangnya daripada bunga yang dia petik, namun sayang dia tidak dapat kembali seperti tantangan gurunya.”

Jadi pelajaran pentingnya adalah seseorang harus banyak bersyukur dengan potensi yang dia punya. Sehingga tidak mudah goyah dengan godaan seperti apapun.

Namun secara teknis, ada metode yang kemudian saya terapkan untuk mengontrol syahwat ide. Yakni membuat Target 3 bulanan. Cara kerjanya cukup simpel

Pertama, Tahap perencanaan. Buat rencana matang-matang karir apa yang akan kita kerjakan selama 3 bulan kedepan. Susun target untuk 3 bulan dan breakdown lagi untuk target per bulannya. Atur projek yang dikerjakan tersebut dengan masuk akal dan tidak muluk-muluk. Maksudnya secara manajemen waktu, kamu cukup dan mungkin untuk menyelesaikannya. Tidak harus satu hal, sebab kita punya waktu yang cukup banyak jika diefektifkan dengan baik. Saya pribadi selama 3 bulan ini fokus pada 3 hal saja, yaitu buat konten instagram, menulis buku, dan latihan sketsa logo.

Kedua, Kerja, sabar dan tulis. Fokus hanya mengerjakan perencanaan yang sudah dibuat. Makanya disini dituntut untuk bersabar tingkat tinggi. Bersabar dari godaan ide-ide lain yang datang sehingga mengalihkan projek utama. Namun yang harus diingat adalah kita tidak perlu bersabar selamanya, cukup bersabar selama tiga bulan. Adapun jika selama tiga bulan ada ide-ide yang dirasa potensial, maka tulislah ide itu, simpan baik-baik dan jangan dieksekusi dulu.

Ketiga, Evaluasi. Lakukanlah evaluasi setelah durasi 3 bulan berakhir. Evaluasi dilakukan untuk melihat potensi pencapaian dari karir yang kita kerjakan selama triwulan kebelakang. Jika ada program yang begitu sulit dan bahkan tak dapat hasil yang maksimal, maka kamu bisa melakukan pivot dengan ide lain yang sudah kamu tuliskan sebelumnya. Sedangkan program yang selama tiga bulan menampakkan hasil yang bagus, kamu bisa lanjutkan untuk 3 bulan berikutnya. Lakukan siklus 3 bulan ini terus menerus, hingga akhirnya akan ada projek yang akan terus kamu kerjakan dan menghasilkan InsyaAllah.

Kenapa harus 3 bulan?, sebab 3 bulan adalah durasi yang tidak terlalu cepat juga tidak terlalu lama. Tidak terlalu cepat jika kita mengerjakan sesuatu. Sehingga pasti ada hasil yang kita torehkan. Misalnya kalau kita membuat video untuk youtube, tentu selama tiga bulan kita fokus, akan kelihatan jumlah video yang kita kerjakan dan tentu membangkitkan semangat karena capaian itu. Sedangkan jika durasinya hanya sebulan, kita sulit mengukur dan terlalu cepat mengambil kesimpulan karena belum ada data capaian target yang signifikan yang dapat mengukur potensi kita.
Tiga bulan juga bukan durasi yang terlalu lama. Jika dalam masa percobaan kita menemukan potensi yang berakhir pada kesimpulan bahwa kita tidak cocok untuk melanjutkan projek tersebut, maka kita bisa segera merubah haluan tanpa menunggu waktu lebih lama lagi. Inilah yang menjadi alasan kenapa 90% resolusi tahunan kita gagal, sebab kita menunggu satu tahun pada resolusi yang belum tentu potensial bisa kita garap.

Jadi menurut saya, tiga bulan itu waktu ideal untuk menentukan lanjutkan atau tinggalkan. Tidak terburu-buru melakukan pivot hingga tidak ada hasil apa-apa, juga tidak terlalu lama dalam kebosanan jika itu adalah projek gagal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *